Kamis, 24 Mei 2012

Minyak Atsiri Jahe


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Bangsa Indoesia adalah bangsa yang kaya akan rempah-rempah, sehingga bangsa Indonesia dikenal di dunia internasional. Adapun rempah- rempah itu berasal dari tanaman- tanaman seprerti jahe, nilam, cengkeh, pala, kapulaga, sereh wangi, mawar, dan lain-lain.
Secara internasional rempah-rempah dari tanaman ini dibuat sebagai obat-obatan atau bumbu dapur, minuman, dan makanan kecil. selain itu digunakan sebagai bahan industry, parfum, minuman, obat-obatan, kosmetik, dan makanan. Dari semua di atas terdapat olahan lebih lanjut yang terpenting dalam rangka industry yaitu minyak atsiri dan oleoresin. Minyak atsiri biasa disebut minyak terbang karena sifatnya nudah menguap.
Salah satu tanaman penghasil minyak atsiri adalah jahe (zingiber officinale roscoe) telah lama dikenal dan tumbuh baik di Indonesia. Pengertian jahe di Indonesia adalah batang yang tumbuh baik di Indonesia. 
Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe berasal dari asia pasifik yang tersebar dari india sampai cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertaama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak, dan obat-obatan tradisional.
Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (zingiberaceae), se-famili dangan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (cucuma xanthorrizha), temu hitam (curcuma aeruginosa), kunyit, (curcuma domestica), kencur(kaempferia galanga), lengkuas (languas galanga), dan lain-lain.

B.      Uraian tanaman
Klasifikasi
Devisi: spermathophyta
Sub devisi: angiospermae
Kelas: monocotyledoneae
Ordo: zingiberales
Family: zingiberaceae
Genus: zingiber
Spesies: zingiber officinale
 Minyak atsiri dari jahe dapat di peroleh dengan empat metode yaiu:
-penyulingan (destilation)
-ekstraksi dengan pelarut penguap
-pengempaan
-absorpsi dengan lemak padat
Sedangakan penyulingan terbagi 3 metode yaiitu:
a)      Penyulingan dengan air
b)      Penyulingan dengan uap air
c)      Penyulingan dengan uap
Dari ketiga metode penyulingan yang paling baik digunakan adalah penyulingan dengan uap ( steam distillation).
C.     Maksud dan tujuan
1.      Maksud
a)      Untuk mengetahui minyak jahe secara umum
b)      Menggali sumber baru tentang minyak jahe yang telah lama dikenal.
2.      Tujuan
a)      Mengetahui dan mempelajari teknik penyulingan minyak jahe
b)      Untuk mengetahui minyak jahe yang di peroleh dari hasil penyulingan rimpang jahe
c)      Untuk mengetahui bagaimana pengaruh waktu terhadap perolehan jumlah minyak jahe pada proses penyulingan.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Pengertian minyak atsiri
Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (Aetheric Oil), minyak esensial, minyak terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas.
Kegunaan minyak atsiri sangat luas dan spesifik, khususnya dalam berbagai bidang industry. Banyak contoh kegunaan minyak atsiri  antara lain:
a.       Dalam industry kosmetik digunakan sebagai sabun, shampoo, pasta gigi.
b.      Dalam industry makanan digunakan sebagai penyedap makanan.
c.       Dalam industry parfum digunakan sebagai pewangi dalam berbagai produk minyak wangi.
d.      Dalam industry  farmasi digunakan sebagai anti nyeri, anti infeksi, pembunuh bakteri.
e.       Dalam industry bahan pengawet dan sebagai insektisida.

B.     Sejarah Singkat Jahe
Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obatan tradisional. Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), se-famili dengan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Cucuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferiagalanga), lengkuas (Languas galanga) dan lain-lain. Daerah jahe antara lain halia (Aceh), beeuing (Gayo), bahing (Batak Karo), sipodeh (Minangkabau), jahi (Lampung), jahe (Sunda), jae (Jawa dan Bali), jhai (Madura), melito (Gorontalo), geraka (Ternate), dsb. Dari India, jahe dibawa sebagai rempah perdagangan hingga Asia Tenggara, Tiongkok, Jepang, hingga Timur Tengah. Kemudian pada zaman kolonialisme, jahe yang bisa memberikan rasa hangat dan pedas pada makanan segera menjadi komoditas yang populer di Eropa.
Karena jahe hanya bisa bertahan hidup di daerah tropis, penanamannya hanya bisa dilakukan di daerah katulistiwa seperi Asia Tenggara, Brasil, dan Afrika. Saat ini Equador dan Brasil menjadi pemasok jahe terbesar di dunia.
C.     Deskripsi jahe
Jahe tergolong tanaman herba, tegak, dapat mencapai ketinggian 40 – 100 cm dan dapat berumur tahunan. Batangnya berupa batang semu yang tersusun dari helaian daun yang pipih memanjang dengan ujung lancip. Bunganya terdiri dari tandan bunga yang berbentuk kerucut dengan kelopak berwarna putih kekuningan.
Akarnya sering disebut rimpang jahe berbau harum dan berasa pedas. Rimpang bercabang tak teratur, berserat kasar, menjalar mendatar. Bagian dalam berwarna kuning pucat.
D.    Komponen Utama
Rimpang jahe putih besar mengandung minyak atsiri, pati, resin, asam-asam organic, asam malat, asam oksalat, dan gingerol. Sifat khas jahe disebabkan adanya minyak atsiri dan oleoresin jahe. Aroma harum jahe disebabkan oleh minyak atsiri, sedangkan oleoresinnya menyebabkan rasa pedas. Minyak atsiri dapat diperoleh atau diisolasi dengan destilasi uap dari rhizoma jahe kering. Ekstrak minyak jahe berbentuk cairan kental berwarna kehijauan sampai kuning, berbau harum tetapi tidak memiliki komponen pembentuk rasa pedas. Kandungan minyak atsiri dalam jahe kering sekitar 1 – 3 persen. Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol.
Zingiberin (C15H24) adalah senyawa paling utama dalam minyak jahe. Senyawa ini memiliki titik didih 340 C pada tekanan 44 mm, dengan berat jenis pada 200C adalah 0,8684. Indeks biasnya 1,4956 dan putaran optic 730 38’ pada suhu 200 C. Selama penyimpanan zingiberence akan mengalami resinifikasi. Sementara zingiberol merupakan seskwiterpen alcohol (C15H26O) yang menyebabkan aroma khas pada minyak jahe.

     



RUMUS BANGUN ZINGIBEREN (C15H24)

          CH3
             |
          CH                  CH2
                                     
    
CH3              CH                 CH
     
   
 CH2             CH                   C
       
                                 CH                 CH3
         CH
         
          
                    C
                 
        
        CH3               CH3



5R)-2-Metil-5-[(2S)-6-metilhept-5-en-2-il]sikloheksa-1,3-diena
Sifat Rumus molekul C15H24
- Massa molar 204,35 g/mol
- Densitas 0,8713 g/cm3 pada 20 °C Titik didih
- Titik didih 134-135 °C pada 15 Torr

(ZINGEROL)

OH                                CH3
 |                                          |
C6H3-CH2-CH2-CO-CH2-CH-(CH2)n-CH3
 |
H3CO
           
  • Tanaman jahe mengandung minyak atsiri 0,6-3% yang terdiri dari α- pinen, β-phellandren, borneol, limonene, linalool, citral, nonylaldehyde, decylaldehyde, methyleptenon, 1,8 sineol, bisabilen, 1-α-curcumin, farnese, humulen, 60% zingiberen dan zingiberole menguap, zat pedas gingerol. Kandungan minyak tidak menguap disebut oleoresin, suatu komponen yang memberi rasa pahit.
  • Komponen dalam oleoresin jahe terdiri atas gingerol dan zingiberen, shagaol,minyak atsiri dan resin. Pemberi rasa pedas dalam jahe yang utama adalah zingerol.
  • rimpang jahe juga mengandung flavonoid, 10- dehydrogingerdione, gingerdione, arginine, linolenic acid, aspartia acid , kanji, lipid, kayu damar, asam amino, protein, vitamin A dan niacin serta mineral. Kadar olesinnya mencapai 3%.
  • Asam-asam organik seperti asam malat dan asam oksalat, Vitamin A, B (colin dan asam folat), dan C, senyawa- senyawa flavonoid, polifenol, aseton ,methanol, cineole, dan arginine.
E.     Efek farmakologi
  • peluruh dahak atau obat batuk, peluruhkeringat, peluruh haid, pencegah mual dan penambah nafsu makan.
  • Antiseptik, circulatory stimulant, diaphoretic,peripheral vasodilator3.
  • membuang angin, memperkuat lambung, memperbaiki pencernaan dan menghangatkan badan.
  • obat karminatifa, diafiretika, dan stimulansiadengan dosis Pemakaian 0,5 gram sampai 1,2 gram.
  • Minyak atsirinya mempunyai efek antiseptic, antioksidan dan mempunyai aktifitas terhadap bakteri dan jamur.
  • Secara tradisional digunakan untuk obat sakit kepala, gangguan pada saluran pencernaan, stimulansia, diuretic, rematik, menghilangkan rasa sakit, mabuk perjalanan, dan sebagai obat luar untuk mengobati gatal-gatal akibat gigitan serangga, keseleo, bengkak, serta memar.
  • Berbagai penelitian juga menyebutkan bahwa jahe memiliki efek antioksidan dan antikanker.
  • ekstrak jahe memberiefek positif terhadap respons proliferatif dan sitolitik limfosit,selain itu ekstrak etanol jahe segarsecara in vitro meningkatkan proliferasi splenosit dan menurunkan tingkat kematian sel.
  • Jahe juga mengandung bahan antioksidan diantaranya senyawa flavonoid dan polifenol,asam oksalat dan vit C,antioksidan ini dapat membantu menetralkan efek merusak yang di sebabkan oleh radikal bebas dalam tubuh.
  • Melindungi system pencernaan dengan menurunkan keasaaman lambung dan menghambat terjadinya iritasi pada saluran pencernaan hal ini karena jahe mengandung senyawa aseton dan methanol.
  • Jahe mengandung senyawa cineole dan arginine yang memiliki manfaat memperkuat daya tahan sperma.
F.      Jenis Tanaman
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk dan warna rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :
1) Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.
2) Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit. Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk
diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.
3) Jahe merah
Rimpangnya berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil. Sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.


G.    Gingerol dari Rimpang Jahe
  1. Struktur kimia, sifat dan golongan
  2. Struktur
Rumus molekul gingerol C17H26O4.
Nama sistematik : (S)-5-hidroksi-1-(4-hidroksi-3-methoxyphenyl)-3-dekanon2.
 
Gambar 2. Struktur gingerol.
Senyawa gingerol memiliki banyak gugus hidroksil sehingga bersifat polar.zat pedas gingerol yaitu: (6)-gingerol 6085%; (4)-gingerol;(8)-gingerol 5-15%, (10)-gingerol 6-22% (12)-gingerol; (6)-methylgingerdiol.Gingerol merupakan senyawa yang labil terhadap panas baik selama penyimpanan maupun pada waktu permrosesan, sehingga gingerol sulit untuk dimurnikan, dan akan berubah menjadi shogaol. Tingkat kepedasan menentukan kualitas minyak jahe. Metode yang paling sederhana untuk menilai tingkat kepedasan  adalah dengan organoleptic karena sangat subyektif dan  mempunyai hasil yang berbeda-beda. Hal tersebut dapat diatasi dengan menggunakan HPLC.

Sifat kimia fisika dari gingerol:
  • Berat molekul: 294,39 g/mol.
  • Bentuk: minyak berwarna kuning muda atau kristal.
  • Penyimpanan: disimpan dalam wadah tertutup rapat.
  • Massa jenis: 1,083 g/cm3.
  • Titik didih: 453oC.
Gingerol merupakan golongan fenol yang merupakan desinfektan yang paling umum yang digunakan di laboratorium sebagai penghambat pertumbuhan kuman atau membunuhnya. Kandungan gingerol dalam minyak jahe sekitar 20 sampai 30 persen berat jahe.
  • Rimpang  jahe juga mengandung flavonoid, 10- dehydrogingerdione, gingerdione, arginine-á, linolenic acid, aspartia acid , kanji, lipid, kayu damar, asam amino, protein, vitamin A dan niacin serta mineral. Kadar olesinnya mencapai 3%.
  • Asam-asam organik seperti asam malat dan asam oksalat, Vitamin A, B (colin dan asam folat), dan C, senyawa- senyawa flavonoid, polifenol, aseton ,methanol, cineole, dan arginine.
  • Senyawa utama dalam  tanaman jahe,yaitu gingerol.Gingerol merupakan golongan dari fenol dari poliketida pada jalur asam asetat.
Table sifat fisika kimia minyak jahe dari berbagai jenis
NO
Spesifikasi
Jahe putih besar
Jahe putih kecil
Jahe merah

1
Air (%)
82,0
50,2
81,0
2
Minyak (dry basis, %)
1,18-1,168
3,3
2,58-2,72
3
B.D. 15/15
0,8907-0,9685
0,9070-0,9207
0,8998-0,9476
4
Indeks bias 200 C
1,4855-1,4939
1,4891-1,4895
1,4841-1,4899
5
Putaran optic
Not visible
+1.220
Not visible
6
Bilangan asam
1,3-11,5
3,2-3,79
3,6-9,22
7
Bilangan ester
21,4-57,0
10,2-14,5
31,2-62,5
8
Bilangan ester sesudah asetilasi
95,2
5-165,4
143,2
9
Kelarutan dalam alkohol
1:1 clear,
 further clear
1:1 clear, further clear
1:1 clear, further clear
Dalam istilah perdagangan internasioal minyak atsiri jahe dikenal dengan nama ginger oil. Adapun karakteristik minyak atsiri jahe menurut standart EOA adalah sebagai berikut:
a.       Warna : kuning
b.      Bobot jeniss 250 C : 0,871-0,882
c.       Indeks bias 200 C : 1,486-1,492
d.      Putaran optic : (-280 C) – (-450 C)
e.       Bilangan penyabunan : maksimum 20


BAB III
METODE PRODUKSI
A.    Penyulingan
a.       Penyulingan dengan air
Bahan yang akan di suling berkontak langsung dengan air yang mendidih. Bahan ini dapat mengapung atau  tenggelam, tergantung berat jenis bahan dan jumlah bahan yang akan di sulig dan di masukkan kedalam ketel. Pemanasannya dapat dilakukan dengan menggunakan pemanasan langsung, mantel uap, ataupun pipa uap dalam spiral terbuka atau berlubang. Kecepatan penyulingan dapat di atur melalui intensitas apinya, juga harus sesuai dengan keadaan alat dan bahan yang akan di suling. diusahakan ada penambahan air untuk menjaga agar bahan tidak terlalu panas dan pengisian bahan tidak terlalu penuh.

b.      Penyulingan dengan air dan uap
Bahan olahan diletakkan di atas rak-rak atau saringan berlubang. Ketel sulingnya di isi air hingga tidak berada jauh di bawah sarigan. Pemanasan air dapat dilakukan dengan uap jenuh yang basah dengan bertekanan rendah jika bahannya dalam jumlah yang banyak. Keuntungan alat ini adalah uap selalu dalam keadaan panas, jenuh, dan tidak panas. Dengan demikian penggunaan alat ini lebih unggul, dilihat dari penggunaan bahan bakar yang sedikit. Akan tetapi proses penyulingan lebih lama. Dalam beberapa keadaan, tekanan  uap yang rendah akan menghasilkan minyak atsiri  berkualitas baik.

c.       Penyulingan dengan uap
Penyuingan dengan uap ini prinsipnya sama dengan penyulingan air dan uap. Perbedaan air tidak dimasukkan  dalam ketel penyulingan. Uap yang digunakan adalah uap jenuh atau  uap yang kelewat panas pada tekanan di atas 1 atm. Uap dialirkan melalui pipa uap spiral berlubang yang terletak dibagian bawah bahan. Kemudian uap bergerak keatas melalui bahan yang ada disaringan. Penyulingan ini merupakan yang terbaik di bandingkan kedua jenis penyulingan tadi, jika ditinjau dari segi biaya, kecepatan penyulingan, kapasitas minyak yang dihasilkan.
Adapun alat-alat  penyulingan terdiri dari:
Peralatan Penyulingan
Alat-alat yang diperlukan dalam penyulingan tergantung pada banyaknya bahan dan metode penyulingan yang dilakukan. Ada tiga bagian alat yang merupakan peralatan dasar, yaitu : ketel suling (retor), pendingin (kondensor), dan penampung hasil kondensasi (receiver), sedangkan untuk penyulingan uap diperlukan bagian tambahan yaitu ketel uap.

1.Ketel Suling (retor), berfungsi sebagai wadah air dan atau uap untuk mengadakan kontak dengan bahan serta untuk menguapkan minyak atsiri.
2.Pendingin (kondensor), berfungsi untuk mengubah seluruh uap air dan uap minyak menjadi fase cair. Kondensor terdiri dari 4 tipe, yaitu : kondensor kisi, kondensor pipa lurus, kondensor berpilin, kondensor tubular.
3.Penampung hasil kondensasi (receiver) yang berupa alat pemisah minyak (decanter) yang berfungsi untuk memisahkan minyak dari air suling (condesed water), dimana air suling tersebut akan terpisah secara otomatis dari minyak atsiri.
4. Ketel uap berfungsi sebagai sumber penghasil uap.

Kelemahan – kelemahan Metode Penyulingan
1.Penyulingan dengan uap air atau air mendidih yang relatif lama cenderung merusak komponen minyak karena proses hidrolisasi, polimerisasi, dan resinifikasi.
2.Komponen minyak yang bertitik didih tinggi, khususnya yang larut dalam air tidak dapat diangkut oleh uap air sehingga rendemen minyak yang dihasilkan lebih rendah.
3.Komponen tertentu dapat terurai di dalam air suling dan tidak dapat diperoleh kembali.

B.     Ekstraksi
Alat ekstraksi atau ekstraktor menghasilkan bentuk minyak  atsiri dari bahan yang di ekstraksi. Ada 2 cara mengekstraksi yaitu mengekstraksi dengan lemak dingin, dan ekstraksi dengan  menguap. Untuk mengekstaksi  jahe menjadi oleoresin biasanya menggunakan cara dengan pelarut menguap. Alat ekstaksi ini umunya tersusun atas tangki air, ketel uap, kondensor, serta bangunan ekstraksi yang terdiri atas alat penyuling dan beberapa tabung.
Bahan pelarut dialirkan secara terus-menerus melalui suatu penampang kedalam tabung berisi bahan. Teknik yang digunakan adalah teknik arus berlawanan sampai ekstraksi selesai. Cairan ekstrak disalurkan ke dalam tabung hampa udara dan dipanaskan pada suhu tertentu untuk menguapkan pelarut dalam ekstrak. Uap pelarut yang timbul dialirkan dalam kondensor untuk mencairkan kembali pelarutnya, sedangkan unsure- unsur yang tertinggal dalam tabung merupakan unsur tumbuhan yang bersifat lilin padat yang biasa disebut concrete. Concrete ini sebenarnya sudah meerupakan oleoresin, tetapi masih kasar sehingga masih perlu dilakukan ekstraksi ulang dengan mencampurkan pelarut dalam concrete.
Ekstrak ini dipanaskan pada suhu tertentu antara 30-400 C untuk memperoleh oleoresin absolute hasil pada ekstraksi kedua masih perlu diekstraksi lagi pada suhu 300 C dengan menambahkan pelarut alcohol. Walaupun sudah dilakukan ekstraksi sebanyak 3 kali terhadap bubuk jahe oleoresin masih belum juga murni. Oleoresin ini masih mengandung pelarut, yang dapat merepotkan dalam menentukan kulitasnya.
Oleoresin jahe Adalah hasil pengolahan lebih lanjut dari tepung jahe. Bentuknya berupa cairan cokelat dengan kandungan minyak asiri 15 hingga 35%.

BAB IV
KESIMPULAN
 Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe berasal dari asia pasifik yang tersebar dari india sampai cina.
Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (zingiberaceae), se-famili dangan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (cucuma xanthorrizha), temu hitam (curcuma aeruginosa), kunyit, (curcuma domestica), kencur(kaempferia galanga), lengkuas (languas galanga), dan lain-lain.
Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (zingiberaceae), se-famili dangan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (cucuma xanthorrizha), temu hitam (curcuma aeruginosa), kunyit, (curcuma domestica), kencur(kaempferia galanga), lengkuas (languas galanga), dan lain-lain.
Komponen utama minyak atsiri jahe yang menyebabkan bau harum adalah zingiberen dan zingiberol.
Zingiberin (C15H25) adalah senyawa paling utama dalam minyak jahe. Senyawa ini memiliki titik didih 340 C pada tekanan 44 mm, dengan berat jenis pada 200C adalah 0,8684. Indeks biasnya 1,4956 dan putaran optic 730 38’ pada suhu 200 C. Selama penyimpanan zingiberence akan mengalami resinifikasi. Sementara zingiberol merupakan seskwiterpen alcohol (C15H26O) yang menyebabkan aroma khas pada minyak jahe. Kandungan minyak yang tidak menguap disebut oleoresin, suatu komponen yang memberi rasa pahit yang terdiri atas gingerol dan zingiberen, shagaol,minyak atsiri dan resin.
Adapun cara untuk memproduksi minyak jahe ialah :
1.Penyulingan,terbagi tiga yaitu:Penyulingan dengan air, Penyulingan dengan uap dan air, Penyulingan dengan uap
2. Ekstraksi
Ada 3 cara mengekstraksi yaitu mengekstraksi dengan lemak dingin, dan ekstraksi dengan  menguap.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Widita,Prima   Widya,2009, Jahe       (ZingiberOfficinale)Available At:Http://Fpk.Unair.Ac.Id/Jurnal/Files/Disk1/1/123456-1234-Primawidya-33-3-Jahe_Pri-A.Pdf(Diakses Tanggal 26 November 2011 Jam 15.45)
2.      Tejasari, Fransiska-Rungkat Zakaria dan Dondin Sajuthi,2009,Ginger (Zingiber Officinale Roscue ) Root BioactiveCompounds Increased Cytolitic Response of NaturalKiller (Nk) Cells Against Leucemic Cell Line K-562 inVitro,Available
3.      Paimin, farry B. 2007. Budi daya, pengolahan, perdagangan jahe. Jakarta: penebar swadaya
4.      Budi santoso, Hieronymus. 1989. Jahe. Jakarta : kanisus.
5.      J.j. afriastinis, A. B. D. Modjo Indo. 1983. Bertanam jahe. Jakarta : penebar swadaya
6.      Anonym. 2001. Pengaruh waktu terhadap perolehan minyak atsiri pada penyulingan rimpang jahe. Medan : PTKI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar