Sabtu, 12 Mei 2012

REAKSI - REAKSI KIMIA ORGANIK


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Sejarah
Reaksi kimia seperti pembakaran, fermentasi, dan reduksi dari bijih menjadi logam sudah diketahui sejak dahulu kala. Teori-teori awal transformasi dari material-material ini dikembangkan oleh filsuf Yunani Kuno, seperti Teori empat elemen dari Empedocles yang menyatakan bahwa substansi apapun itu tersusun dari 4 elemen dasar: api, air, udara, dan bumi. Di abad pertengahan, transformasi kimia dipelajari oleh para alkemis. Mereka mencoba, misalnya, mengubah timbal menjadi emas, dengan mereaksikan timbal dengan campuran tembaga-timbal dengan sulfur.[2]
Produksi dari senyawa-senyawa kimia yang tidak terdapat secara alami di bumi telah lama dicoba oleh para ilmuwan, seperti sintesis dari asam sulfur dan asam nitrat oleh alkemis Jābir ibn Hayyān. Proses ini dilakukan dengan cara memanaskan mineral-mineral sulfat dan nitrat, seperti tembaga sulfat, alum dan kalium nitrat. Pada abad ke-17, Johann Rudolph Glauber memproduksi asam klorida dan natrium sulfat dengan mereaksikan asam sulfat dengan natrium klorida. Dengan adanya pengembangan lead chamber process pada tahun 1746 dan proses Leblanc, sehingga memungkinkan adanya produksi asam sulfat dan natrium karbonat dalam jumlah besar, maka reaksi kimia dapat diaplikasikan dalam industri. Teknologi asam sulfat yang semakin maju akhirnya menghasilkan proses kontak di tahun 1880-an,[3] dan proses Haber dikembangkan pada tahun 1909–1910 untuk sintesis amonia.[4]
Dari abad ke-16, sejumlah peneliti seperti Jan Baptist van Helmont, Robert Boyle dan Isaac Newton mencoba untuk menemukan teori-teori dari transformasi-transformasi kimia yang sudah dieksperimenkan. Teori plogiston dicetuskan pada tahun 1667 oleh Johann Joachim Becher. Teori itu mempostulatkan adanya elemen seperti api yang disebut "plogiston", yang terdapat dalam benda-benda yang dapat terbakar dan dilepaskan selama pembakaran. Teori ini dibuktikan salah pada tahun 1785 oleh Antoine Lavoisier, yang akhirnya memberikan penjelasan yang benar tentang pembakaran.[5]
Pada tahun 1808, Joseph Louis Gay-Lussac akhirnya mengetahui bahwa karakteristik gas selalu sama. Berdasarkan hal ini dan teori atom dari John Dalton, Joseph Proust akhrinya mengembangkan hukum perbandingan tetap yang nantinya menjadi konsep awal dari stoikiometri dan persamaan reaksi.[6]
Pada bagian kimia organik, telah lama dipercaya bahwa senyawa yang terdapat pada organisme yang hidup itu terlalu kompleks untuk bisa didapatkan melalui sintesis kimia. Menurut konsep vitalisme, senyawa organik dilengkapi dengan "kemampuan vital" sehingga "berbeda" dari material-material inorganik. Tapi pada akhirnya, konsep ini pun berhasil dipatahkan setelah Friedrich Wöhler berhasil mensintesis urea pada tahun 1828. Kimiawan lainnya yang memiliki kontribusi terhadap ilmu kimia organik diantaranya Alexander William Williamson dengan sintesis eter yang dilakukannya dan Christopher Kelk Ingold yang menemukan mekanisme dari reaksi substitusi.
Antoine Lavoisier mengembangkan teori pembakaran sebagai reaksi kimia dengan oksigen.
B.  Pengertian
Reaksi kimia adalah suatu proses alam yang selalu menghasilkan antarubahan senyawa kimia. Senyawa ataupun senyawa-senyawa awal yang terlibat dalam reaksi disebut sebagai reaktan. Reaksi kimia biasanya dikarakterisasikan dengan perubahan kimiawi, dan akan menghasilkan satu atau lebih produk yang biasanya memiliki ciri-ciri yang berbeda dari reaktan. Secara klasik, reaksi kimia melibatkan perubahan yang melibatkan pergerakan elektron dalam pembentukan dan pemutusan ikatan kimia, walaupun pada dasarnya konsep umum reaksi kimia juga dapat diterapkan pada transformasi partikel-partikel elementer seperti pada reaksi nuklir.
Reaksi-reaksi kimia yang berbeda digunakan bersama dalam sintesis kimia untuk menghasilkan produk senyawa yang diinginkan. Dalam biokimia, sederet reaksi kimia yang dikatalisis oleh enzim membentuk lintasan metabolisme, di mana sintesis dan dekomposisi yang biasanya tidak mungkin terjadi di dalam sel dilakukan.



BAB II
LANDASANN TEORI
A.    Senyawa Organik
Senyawa organik terlibat dalam tiap segi kehidupan, dan banyak manfaatnya dalam kehidupan manusia sehari-hari. Ada diantaranya yang berwujud bahan makanan,bahan sandang, obat- obatan, kosmetik, dan berbagai jenis plastik. Bahkan dalam tubuhpun banyak terdapat sejumlah senyawa organik dengan fungsi yang beragam pula. Senyawa organik hanya mewakili satu jenis senyawa kimia, yaitu yang mengandung satu atom karbon atau lebih. Kimia organik barangkali lebih baik didefinisikan sebagai kimia senyawa yang mengandung karbon. Meskipun penggolongan seperti ini agak terbatas, fakta menunjukkan bahwa senyawa yang mengandung atom karbonlah yang banyak terdapat di muka bumi ini. Fakta ini adalah akibat dari kemampuan atom karbon membentuk ikatan dengan atom karbon lain. Jika sifat khas ini dibarengi dengan kemampuan atom karbon membentuk empat ikatan dalam ruang tiga dimensi, maka berbagai susunan atom dapat terjadi. Saat ini jutaan senyawa organik telah ditentukan cirinya, dan setiap tahun puluhan ribu zat baru ditambahkan ke dalam daftar ini, baik sebagai hasil penemuan di alam, ataupun sebagai hasil pembuatan di laboratorium.
Karbon adalah suatu unsur utama penyusun jasat hidup ini sehingga atom karbon menjadi tulang punggung pembentuk senyawa yang beraneka ragam. Mengapa karbon dapat membentuk senyawa-senyawa yang begitu banyak, dimana hal ini tidak ditunjukkan oleh unsur lain. Karbon memiliki empat elektron di kulit terluarnya. Masing-masing elektron dapat disumbangkan kepada unsur-unsur lain sehingga terpenuhi susunan elektroniknya, dan dengan elektron-elektron pasangan membentuk ikatan kovalen. Nitrogen, oksigen dan hidrogen adalah unsur-unsur yang dapat berikatan dengan karbon. Satu atom karbon dapat menyumbangkan paling banyak empat electron untuk dipasangkan dengan empat elektron dari unsur lain. Sebagai contoh dalam
molekul metana (CH4)
Atom karbon dapat dibedakan dengan atom lain yaitu pada kemampuan atom karbon untuk berpasangan dengan atom karbon lain membentuk ikatan kovalen karbon-karbon.  Fenomena tunggal inilah yang memberikan dasar-dasar kimia organik. Rangkaian atom-atom karbon beraneka ragam: linear, bercabang, siklik yang dikelilingi oleh atom hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Tidak banyak unsur lain yang memiliki empat elektron di kulit terluar yang bersifat seperti atom karbon. Hanya silikon yang mirip dengan atom karbon, artinya dapat membentuk ikatan kovalen dengan unsur-unsur lain. Seperti SiO2yang melimpah. Senyawa ini sangat stabil, tetapi silikon bukan unsure penyusun jasat hidup.

B. Pengolongan senyawa organik
Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menjumpai senyawa, baik senyawa organik maupun anorganik. Senyawa organik sangat banyak jenisnya, sehingga perlu adanya penggolongan senyawa organik.
Senyawa siklik: senyawa yang mempunyai rantai karbon tertutup.
Senyawa alifatik: senyawa yang mempunyai rantai karbon terbuka.
Senyawa homosiklik: senyawa siklik yang atom lingkarnya hanya tersusun oleh atom karbon.
Senyawa heterosiklik : senyawa siklik yang atom lingkarnya, selain tersusun dari atom C (karbon) juga tersusun oleh atom lain, misalnya : O, N, dan S.
Senyawa polisiklik: senyawa yang mempunyai lebih dari dua struktur lingkar atom karbon.
Senyawa alisiklik : senyawa siklik yang mempunyai sifat-sifat seperti senyawa alifatik.
Senyawa aromatik : senyawa siklik yang tersusun oleh beberapa atom karbon membentuk segi lima, segi enam secara beraturan dan mempunyai ikatan rangkap yang terkonjugasi dengan ketentuan :
tiap atom dalam cincin harus mempunyai orbital p yang tersedia
untuk pengikatan, bentuk cincin harus datar, harus terdapat
(4n+2) elektron π dalam cincin itu (aturan Huckel)

C.    DASAR-DASAR REAKSI ORGANIK
a.      Tipe Reaksi Organik
Reaksi-reaksi senyawa organik digolongkan dalam beberapa tipe, yaitu:
1. Reaksi substitusi
a. Reaksi substitusi nukleofilik unimolekuler (SN1)
b. Reaksi substitusi nukleofilik bimolekuler (SN2)
c. Reaksi substitusi nukleofilik internal (SNi)
d. Reaksi substitusi elektrofilik (SE)
2. Reaksi adisi
a. Reaksi anti adisi
b. Reaksi sin adisi
3. Reaksi eliminasi
a. Reaksi eliminasi �� (eliminasi 1,1)
b. Reaksi eliminasi �� (eliminasi 1,2)
4. Reaksi penataan ulang (rearrangement)
5. Reaksi radikal.
b. Pemutusan ikatan
Proses pemutusan ikatan terjadi dengan dua cara, yaitu:
1.      Pemutusan homolisis
 yaitu pemutusan ikatan dimana masing-masing atom membawa elektron dalam jumlah yang sama (simetris), sehingga membentuk radikal. Radikal bebas bersifat sementara dan sangat reaktif, sehingga cepat bergabung membentukmolekul kembali. Pemutusan  homolisis terjadi karena adanya energi panas atau cahaya
Contoh : Cl2 dapat digambarkan Cl – Cl, atau Cl : Cl2.
2. Pemutusan heterolisis
Pemutusan heterolisis terjadi apabila hanya salah satu atom yang membawa elektron, sedangkan atom yang lain tidak membawa elektron (asimetris). Atom yang membawa sepasang elektron akan bermuatan negatif, sedangkan atom yang tidak membawa elektron bermuatan positif. Pemutusan heterolisis molekul AB dapat terjadi dalam dua cara, yaitu:
a. Jika elektronegativitas A lebih besar dari B
b. Jika elektronegativitas B lebih besar dari A.

Karbonium (karbokation) dan karbanion (karboanion)
Pemutusan heterolisis ikatan C-X senyawa karbon dapat terjadi dengan dua cara:
1. Apabila elektronegativitas X lebih besar dari C, maka akan terjadi karbonium (struktur dimana atom C memiliki muatan formal +1, hal ini berarti atom C memiliki orbital kosong)
R adalah atom hidrogen, gugus alkil atau fenil, sedangkan X adalah
unsur halogen (Cl, Br, I).
2. Apabila elektronegativitas X lebih kecil dari C, maka akan terjadi arbanion ( struktur dimana atom C memiliki muatan formal –1, hal ini berarti atom C memiliki orbital isi dua)
Nukleofil dan elektrofil
Pada proses heterolisis akan terjadi nukleofil dan elektrofil.
a. Nukleofil adalah spesies (atom / ion/ molekul) yang kaya elektron, sehingga dia tidak suka akan elektron tetapi suka akan nukleus (inti yang kekurangan elektron).
b. Elektrofil adalah spesies (atom / ion / molekul) yang kekurangan elektron, sehingga ia suka akan elektron.
Menurut konsep asam basa Lewis nukleofil adalah suatu basa, sedangkan elektrofil adalah suatu asam. Reaksi senyawa karbon pada dasarnya adalah reaksi antara suatu nukleofil dengan suatu elektrofil.
D.    REAKSI KIMIA ORGANIK
1, Reaksi Substitusi
Reaksi substitusi terjadi apabila sebuah atom atau gugus yang berasal dari pereaksi menggantikan sebuah atom atau gugus dari molekul yang bereaksi. Reaksi substitusi dapat terjadi pada atom karbon jenuh atau tak jenuh.

SN1  mechanism
SN2 mechanism

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/archive/e/e1/20120226131853%21Electrophilic_aromatic_substitution.svg/648px-Electrophilic_aromatic_substitution.svg.png
Mekanisme dari substitusi aromatik elektrofilik
1. Reaksi substitusi nukleofilik
Pada reaksi substitusi nukleofilik atom/ gugus yang diganti mempunyai elektronegativitas lebih besar dari atom C, dan atom/gugus pengganti adalah suatu nukleofil, baik nukleofil netral atau nukleofil yang bermuatan negatif. Reaktivitas relatif dalam reaksi substitusi nukleofilik dipengaruhi oleh reaktivitas nukleofil, struktur alkilhalida dan sifat dari gugus terlepas. Reaktivitas nukleofil dipengaruhi oleh basisitas, kemampuan mengalami polarisasi, dan solvasi.
2. Reaksi substitusi elektrofilik
Benzena memiliki rumus molekul C6H6, dari rumus molekul tersebut seyogyanya benzena termasuk golongan senyawa hidrokarbon tidak jenuh. Namun ternyata benzena mempunyai sifat kimia yang berbeda dengan senyawa hidrokarbon tidak jenuh. Beberapa perbedaan sifat benzena dengan senyawa hidrokarbon tidak jenuh adalah diantaranya bahwa benzena tidak mengalami reaksi adisi melainkan mengalami reaksi substitusi. Pada umumnya reaksi yang terjadi terhadap molekul benzena adalah reaksi substitusi elektrofilik, hal ini disebabkan karena benzena merupakan molekul yang kaya electron.

2. Reaksi Adisi
Reaksi adisi terjadi pada senyawa tak jenuh. Molekul tak jenuh dapat menerima tambahan    atau gugus dari suatu pereaksi. Dua contoh pereaksi yang mengadisi pada ikatan rangkap adalah brom dan hidrogen. Adisi brom biasanya merupakan reaksi cepat, dan sering dipakai sebagai uji kualitatif untuk mengidentifikasi ikatan rangkap dua atau rangkap tiga. Reaksi adisi secara umum dapat digambarkan
sebagai berikut:
1. Adisi elektrofilik
Tahap reaksi adisi elektrofilik adalah:
Tahap 1: serangan terhadap elektrofil E+yang terjadi secara lambat,
Tahap 2 : serangan nukleofil terhadap karbonium,
Sebagai contoh apabila etena bereaksi dengan HBr , mekanisme reaksi
mengikuti langkah sebagai berikut:
2. Adisi nukleofilik
Tahap reaksi adisi nukleofilik adalah:
Adisi nukleofilik ini khusus untuk HX terhadap senyawa C = C – Z, dimana Z
adalah CHO, COR, COOR, CN, NO2, SO2R, gugus ini mendominasi
delokalisasi elektron pada senyawa intermediet.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a5/HBr-Addition.png/300px-HBr-Addition.png
Adisi elektrofilik hidrogen bromide

3. Reaksi Eliminasi
Reaksi eliminasi adalah kebalikan dari reaksi adisi. Dalam reaksi ini terjadi penghilangan 2 atom atau gugus untuk membentuk ikatan rangkap atau struktur siklis. Kebanyakan reaksi eliminasi menyangkut kehilangan atom bukan karbon.
1. Reaksi eliminasi
Bila alkilhalida yang mempunyai atom H direaksikan dengan basa kuat, akan
terjadi reaksi eliminasi dan terbentuk alkena.
Karena proton yang dihilangkan terletak pada kedudukan terhadap halogen,
maka reaksi ini disebut eliminasi Bila X adalah halogen, maka reaksi ini
disebut dehidrohalogenasi. Eliminasi dapat pula terjadi bila X adalah gugus
lepas yang baik, misalnya –OSO2R, -SR2 dan -SO2R.
Sebagai contoh:
2. Eliminasi
Reaksi eliminasi terjadi jika 2 atom atau gugus yang dihilangkan berasal dari
atom karbon yang sama. Misalnya t-butoksida akan menghilangkan proton dari
tribromometan (bromoform). Selanjutnya tribromo karbanion akan kehilangan
ion bromida, sehingga terbentuk dibromokarbena, suatu intermediet yang sangat
reaktif, yang dapat ditangkap (trapped) dengan sikloheksena.

Eliminasi E1

Eliminasi E1
Eliminasi E1

eliminasi E1cb
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/6/61/E2-mechanism.svg/300px-E2-mechanism.svg.png

Eliminasi E2

4. REAKSI PENATAAN ULANG
Reaksi penataan ulang dapat berlangsung melalui intermediet, terutama kation-kation, anion-anion atau radikal-radikal. Sebagai contoh adalah penataan ulang yang melibatkan karbokation, kation 1-propilium dapat mengalami penataan ulang menjadi kation 2-propilium, yaitu dengan perpindahan satu atom hidrogen dengan pasangan elektronnya (geseran hidrida) dari C2 ke karbon C1 karbokationiknya. Hal ini merupakan petunjuk bahwa kemantapan karbokation sekunder lebih besar daripada primer, tetapi geseran dalam arah yang berlawanan dapat berlangsung, asalkan imungkinkan untuk mencapai kemampuan delokalisasi yang labih besar pada system orbital suatu cincin benzena. Berikut ditunjukkan terjadinya penataan ulang dari karbokation tersier sekunder.
Di sini terlihat adanya peluang untuk terjadinya penataan ulang yang lebih menarik dalam kation terdelokalisasi, misalnya penataan ulang pada sistem alilik. Sebagai contoh adalah dalam reaksi solvolisis SN1 dari 3-kloro-1-butena dalam etanol (EtOH). Setelah terbentuknya karbokation, penyerangan oleh EtOH dapat terjadi pada C1 dan C2, dan ternyata diperoleh campuran dari kedua eter tersebut.

5. REAKSI RADIKAL
Reaksi-reaksi yang melibatkan radikal amat banyak terjadi dalam bentuk gas, pembakaran senyawa organik hampir selalu merupakan reaksi radikal. Reaksi radikal juga dapat berlangsung dalam larutan, terutama jika dilakukan dalam pelarut nonpolar, serta terkatalisis oleh cahaya atau terjadi penguraian serentak zat-zat kimia yang diketahui akan menghasilkan radikal itu sendiri, yakni peroksida organik. Ciri khas lain untuk reaksi radikal adalah bahwa begitu mulai terjadi, reaksi akan berjalan amat cepat akibat berlangsungnya reaksi-rantai-cepat yang hanya sedikit memerlukan energi, misalnya pada halogenasi alkana:
Dalam hal ini, radikal yang diperoleh secara fotokimia yaitu atom brom (Br.)
reaksinya dengan substrat netral R-H akan menghasilkan R.. Radikal ini bereaksi lebih lanjut dengan suatu molekul netral Br2, dan akan menghasilkan Br. Lagi, daur ini berlangsung terus menerus tanpa perlu Br. baru lagi. Merupakan ciri khas pula bahwa reaksi radikal semacam ini dapat dihambat dengan adanya pemasukan suatu bahan yang dapat bereaksi dengan radikal, misalnya fenol, kinon, difenilamina. Bahan-bahan ini dapat dipakai untuk menghentikan suatu reaksi radikal yang tengah berlangsung, sehingga bahan ini disebut penghenti/terminator.

E.     PERSAMAAN REAKSI
Persamaan reaksi merupakan salah satu langkah untuk merangkum apa yang terjadi dalam suatu reaksi kimia. Persamaan kimia dapat dijelaskan secara lisan maupun tulisan, yaitu melalui rumus reaksi kimia. Senyawa yang akan mengalami reaksi kimia disebut Reaktan. Reaktan dituliskan di ruas kiri pada reaksi kimia, sedangkan senyawa yang dihasilkan setelah reaksi kimia dinamakan Produk. Produk dituliskan di ruas kanan pada reaksi kimia.
Persamaan reaksi digunakan untuk menggambarkan reaksi kimia. Persamaan reaksi terdiri dari rumus kimia atau rumus struktur dari reaktan di sebelah kiri dan produk di sebelah kanan. Antara produk dan reaktan dipisahkan dengan tanda panah (→) yang menunjukkan arah dan tipe reaksi. Ujung dari tanda panah tersebut menunjukkan reaksinya bergerak ke arah mana. Tanda panah ganda (is in equilibrium with), yang mempunyai dua ujung tanda panah yang berbeda arah, digunakan pada reaksi kesetimbangan. Persamaan kimia haruslah seimbang, sesuai dengan stoikiometri, jumlah atom tiap unsur di sebelah kiri harus sama dengan jumlah atom tiap unsur di sebelah kanan. Penyeimbangan ini dilakukan dengan menambahkan angka di depan tiap molekul senyawa (dilambangkan dengan A, B, C dan D di diagram skema di bawah) dengan angka kecil (a, b, c dan d) di depannya.
\mathrm{a\ A + b\ B \longrightarrow c\ C + d\ D}
Reaksi yang lebih rumit digambarkan dengan skema reaksi, tujuannya adalah untuk mengetahui senyawa awal atau akhir, atau juga untuk menunjukkan fase transisi. Beberapa reaksi kimia juga bisa ditambahkan tulisan di atas tanda panahnya; contohnya penambahan air, panas, iluminasi, katalisasi, dsb. Juga, beberapa produk minor dapat ditempatkan di bawah tanda panah.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/3c/Baeyer-Villiger-Oxidation-V1.svg/750px-Baeyer-Villiger-Oxidation-V1.svg.png
http://bits.wikimedia.org/skins-1.19/common/images/magnify-clip.png
Sebuah contoh reaksi organik: oksidasi keton menjadi ester dengan Asam peroksikarboksilat
Analisis retrosintetik dapat dipakai untuk mendesain reaksi sintesis kompleks.Analisis dimulai dari produk, contohnya dengan memecah ikatan kimia yang dipilih menjadi reagen baru. Tanda panah khusus () digunakan dalam reaksi retro.
Reaksi kimia organik lainnya
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/15/Cope_Rearrangement_Scheme.png/220px-Cope_Rearrangement_Scheme.png
http://bits.wikimedia.org/skins-1.19/common/images/magnify-clip.png
Penataan ulang dari 3-metil-1,5-heksadiena
Mekanisme dari reaksi Diels-Alder
Mekanisme dari reaksi Diels-Alder
Orbital overlap in a Diels-Alder reaction


Reaksi lainnya
  • Isomerisasi, yang mana senyawa kimia menjalani penataan ulang struktur tanpa perubahan pada komposisi atomnya
  • Pembakaran, adalah sejenis reaksi redoks yang mana bahan-bahan yang dapat terbakar bergabung dengan unsur-unsur oksidator, biasanya oksigen, untuk menghasilkan panas dan membentuk produk yang teroksidasi. Istilah pembakaran biasanya digunakan untuk merujuk hanya pada oksidasi skala besar pada keseluruhan molekul. Oksidasi terkontrol hanya pada satu gugus fungsi tunggal tidak termasuk dalam proses pembakaran.
C10H8+ 12 O2 → 10 CO2 + 4 H2O
CH2S + 6 F2CF4 + 2 HF + SF6
  • Disproporsionasi, dengan satu reaktan membentuk dua jenis produk yang berbeda hanya pada keadaan oksidasinya.
2 Sn2+ → Sn + Sn4+
Penulisan persamaan reaksi harus mengikuti langkah-langkah berikut ini.
  1. Tuliskan persamaan reaksi dalam kata-kata dengan menggunakan informasi yang diberikan ataupun berdasarkan pengetahuan kimia.
  2. Tuliskan rumus reaksi kimia yang benar dari setiap reaktan pada ruas kiri dan produk pada ruas kanan persamaan reaksi.
  3. Setarakan persamaan reaksi yang telah ditulis. Hal ini dilakukan untuk memperoleh jumlah atom yang sama untuk reaktan dan produk.
  4. Terakhir, cantumkan simbol keadaan fase, seperti l, s, g, dan aq. l (liqiud), s (solid), g (gas), aq (aqueous)
  5. Sebagai contoh, perhatikan persamaan reaksi untuk oksidasi magnesium. Ketika magnesium direaksikan dengan oksigen, langkah-langkah yang harus dijalankan adalah sebagai berikut.
  6. Langkah 1
  7. Menuliskan persamaan reaksi dengan kata-kata
8.       magnesium + oksigen → magnesium oksida
  1. Langakah 2
  2. Menuliskan rumus reaksi kimia dari setiap reaktan dan produk
  3. Mg + O2 → MgO
  4. Rumus molekul magnesium oksida adalah MgO. Ion magnesium (Mg2+) membutuhkan hanya ion oksidauntuk menyeimbangkan muatannya.
  5. Langkah 3
  6. Menyetarakan  persamaan reaksi yang sudah ditulis.
  7. 2Mg + O2  → 2MgO
  8. Langkah 4
  9. Mencantumkan simbol keadaan fase
  10. 2Mg(s) + O2  → 2MgO(s)
F.     PERSAMAAN REAKSI SEDERHANA
Reaksi – reaksi senyawa organic
A. Reaksi oksida asam dan air membentuk senyawa asam yang mengandung oksigen, Karbon dioksida dengan air membentuk asam karbonat
CO2 + H2O → H2CO3
Sulfur Dioksida dengan air membentuk asam sulfit
            SO2 + H2O → H2SO3
Dinitrogen Trioksida dengan air membentuk asam nitrit.
            N2O3 + H2O → 2HNO2
Difosfor Trioksida  dan air menghasilkan asam fosfit
            P2O3 + 3H2O → 2H3PO3
   Reaksi oksida basa dengan air membentuk senyawa basa yang mengandung OH.
Natrium oksida dengan air membentuk natrium hidroksida
            Na2O + H2O → 2NaOH
Kalsium oksida dengan air membentuk kalsium hidroksida
            CaO + H2O → Ca(OH)2
G.     Penyetaraan Reaksi Kimia       
            Fe + O2 → FeO
Persamaan reaksi tersebutbelum setara karena jumlah atom di ruas kiri belum sama dengan jumlah atom di ruas kanan.
            a Fe + b O2 → c FeO
1. Jika atom Fe di ruas kiri dan ruas kanan adalah satu, maka 1 a = 1 c, atau a = c
2. Jumlah atom O di ruas kiri adalah dua dan di ruas kanan hanya satu, maka 2 b = c, jika c = maka b = ½
3. Maka, persamaan reaksi kimianya adalah 1 Fe + ½ O2 → 1 FeO atau jika dikalikan 2 menjadi 2 Fe + O2 → 2 FeO
 Reaksi Senyawa Organik
1. Jika dibakar sempurna, gas metana menghasilkan karbon dioksida dan air          
            CH4 + 2O2 → CO2 + 2H2O
2.  Asam asetat bereaksi dengan natrium hidroksida membentuk natrium asetat dan air
            CH3COOH + NaOH  → CH3COONa + H2O
BAB III
KESIMPULAN
Reaksi kimia adalah suatu proses alam yang selalu menghasilkan antarubahan senyawa kimia. Reaksi kimia organic mempunyai beberapa penggolongan, diantaranya adalah senyawa siklik: senyawa yang mempunyai rantai karbon tertutup,s enyawa alifatik: senyawa yang mempunyai rantai karbon terbuka, senyawa homosiklik: senyawa siklik yang atom lingkarnya hanya tersusun oleh atom karbon, senyawa heterosiklik : senyawa siklik yang atom lingkarnya, selain tersusun dari atom C (karbon) juga tersusun oleh atom lain, misalnya : O, N, dan S, senyawa polisiklik: senyawa yang mempunyai lebih dari dua struktur lingkar atom karbon, senyawa alisiklik : senyawa siklik yang mempunyai sifat-sifat seperti senyawa alifatik, senyawa aromatik : senyawa siklik yang tersusun oleh beberapa atom karbon membentuk segi lima, segi enam secara beraturan dan mempunyai ikatan rangkap yang terkonjugasi.
            Adapun reaksi- reaksi kimia organic terdiri dari, reaksi addisi, substitusi, eliminasi, dan di tambah dengan reaksi- reaksi organic lain. Di dalam reaksi- reaksi kimia organic terdapat persamaan reaksi, dimana persamaan reaksi ini digunakan guna reaksi mencapai keseimbangan sesuai stoikiometri. Dalam persamaan reaksi jumlah atom tiap unsure di sebelah kiri harus sama dengan jumlah atom unsure di sebelah kanan.



DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar